Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang resmi diluncurkan pada 6 Januari 2025 di bawah naungan Badan Gizi Nasional (BGN), berdasarkan Peraturan Presiden No. 83 Tahun 2024, merupakan salah satu ekspansi kebijakan sosial terbesar dan paling ambisius dalam sejarah modern Indonesia. Dirancang sebagai pilar utama dari agenda Asta Cita serta visi Indonesia Emas 2045, MBG bertujuan memutus rantai malnutrisi antargenerasi, menekan prevalensi stunting yang masih berada pada angka 19,8%, serta menggerakkan perekonomian daerah.
Namun, pelaksanaan program berskala masif yang menargetkan puluhan juta penerima manfaat di seluruh kepulauan Indonesia ini menghadapi berbagai dinamika operasional, risiko kelembagaan, serta beban fiskal yang signifikan. Bagaimana kondisi jalan terjal MBG saat ini, dan apa strategi terbaik untuk merancang masa depan MBG di Indonesia agar berkelanjutan?
1. Realita Implementasi: Skala Anggaran vs. Efisiensi Penyerapan
MBG membutuhkan alokasi dana yang sangat besar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pada tahun 2025, anggaran awal yang disiapkan berkisar antara Rp71 triliun dan Rp171 triliun, sementara alokasi anggaran tahun 2026 direncanakan mencapai Rp268 triliun hingga Rp335 triliun (sekitar 1,1% hingga 1,4% dari PDB nasional).
- Dilema Penyerapan (Disbursement Lag): Pada fase awal pelaksanaan di pertengahan tahun 2025, penyerapan anggaran sempat mengalami hambatan (bottleneck) akibat kerumitan administrasi dan rantai pasok logistik. Hingga September 2025, baru sekitar Rp13 triliun (18,3% dari pagu awal Rp71 triliun) yang telah terealisasi.
- Akselerasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG): Mendorong efisiensi penyaluran, BGN mempercepat pembangunan dapur SPPG. Jumlah dapur SPPG yang beroperasi melompat dari 1.873 unit pada semester I 2025 menjadi 10.012 unit per September 2025, dan menembus lebih dari 27.000 unit di berbagai provinsi.
- Multiplier Effect Ekonomi Lokal: Keterlibatan UMKM, BUMDes, dan koperasi sebagai mitra pasokan bahan baku dan pengelola dapur terbukti memberikan dampak positif, di mana studi mencatat kenaikan pendapatan bulanan UMKM peserta hingga 33,68%.
2. Isu Mendasar: Keamanan Pangan, Ketenagakerjaan, dan Kualitas Gizi
Meskipun menunjukkan dampak positif terhadap tingkat kehadiran dan konsentrasi belajar siswa di sekolah, MBG menghadapi tiga tantangan operasional utama yang membutuhkan penanganan segera:
- Keamanan Pangan & Higienitas Sanitation: Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta Kemenkes mencatat maraknya kasus keracunan makanan yang disebabkan oleh jeda waktu antara penyelesaian memasak dan pengonsumsian (holding time) yang melebihi batas aman 4 jam. Selain itu, per Mei 2026, sebanyak 43,12% dapur SPPG tercatat belum memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
- Perlindungan Tenaga Kerja Dapur: Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyoroti bahwa dari sekitar 1,21 juta pekerja yang terserap di dapur SPPG, mayoritas masih berstatus sebagai "relawan", sehingga belum memperoleh perlindungan jaminan sosial (BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan) yang memadai.
- Kesesuaian Standar Nutrisi & Sampah Pangan: Hasil evaluasi mutu nutrisi menunjukkan bahwa masakan di beberapa unit SPPG masih mengalami defisit energi dan protein dibandingkan dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan dalam Permenkes No. 28 Tahun 2019. Di samping itu, timbulan sisa makanan (food waste) anak sekolah yang diperkirakan mencapai 50–100 gram per anak per hari memerlukan skema penanganan limbah yang terstruktur.
3. Peta Jalan dan Rekomendasi Mendasar untuk Masa Depan MBG
Agar MBG tidak sekadar menjadi program pembagian bantuan sosial jangka pendek melainkan investasi jangka panjang modal manusia, sejumlah reformasi strategis harus segera diterapkan:
- Penguatan Landasan Hukum & SPM: Memperkokoh payung hukum MBG melalui regulasi setingkat Undang-Undang atau revisi Peraturan Presiden (seperti Perpres No. 115/2025) untuk menetapkan Standar Pelayanan Minimal (SPM), standar keamanan pangan, serta akuntabilitas dalam pengadaan.
- Presisi Target Berbasis Data DTSEN: Mengubah skema penjangkauan universal mentah (universal broadcasting) menjadi penjangkauan berbasis presisi dengan memanfaatkan Daftar Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Prioritas utama harus diarahkan pada kelompok 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) — ibu hamil, ibu menyusui, dan balita — serta sekolah-sekolah di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).
- Integrasi Edukasi Gizi dan Pangan Lokal: Mengadopsi kurikulum edukasi gizi terpadu di sekolah (seperti konsep Shokuiku di Jepang) untuk membentuk pola makan sehat dan mengurangi food waste. Selain itu, BGN perlu mewajibkan kemitraan dalam rantai pasok bahan baku dengan kelompok tani lokal, BUMDes, dan Koperasi Desa Merah Putih.
- Modernisasi Rantai Pasok dan Digitalisasi MONEV: Menerapkan pemantauan digital secara real-time berbasis aplikasi untuk melacak distribusi bahan baku, kelayakan sanitasi dapur, hingga menampung umpan balik penerima manfaat melalui pengaduan SP4N-LAPOR!.
Referensi
- BGN. (2024). Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Bantuan Pemerintah untuk Program Makan Bergizi Gratis Tahun 2025. Badan Gizi Nasional.
- Megananda, T. B., & Farras, J. I. (2026). Free Nutritious Meals program budget and investor trust: A comparative international study. International Journal of Management and Business Economics, 4(3), 765–774.
- Satriawan, E., & Nugroho, W. S. (2025, October 16). Feeding ambition, missing precision: Rethinking Indonesia's free meal program. Faculty of Economics and Business, Universitas Gadjah Mada. https://feb.ugm.ac.id/en/faculty-insight/17244-feeding-ambition-missing-precision-rethinking-indonesias-free-meal-program
- Suprapto, F. A., Praditya, E., Dewi, R. M., & Adiyoso, W. (2025). A policy implementation review of the Free Nutritious Meal (MBG) program. The Journal of Indonesia Sustainable Development Planning, 6(2), 297–312. https://doi.org/10.46456/jisdep.v6i2.798
- UNICEF. (2025). The Centre of Excellence for the Makan Bergizi Gratis programme: Advancing evidence to drive Indonesia's nutrition agenda (Fact Sheet). UNICEF Indonesia.



